Keluarga dan Buku di Tengah Pandemi (2020*)

            

Anak laki-laki sedang belajar di rumah (unsplash.com)

Alkisah, seorang anak laki-laki sedang belajar Matematika bersama ibundanya di rumah. Ia tersenyum, sembari tangannya terus menulis angka-angka, “Bu, rasanya aku lebih mudah paham diajar oleh Ibu, daripada diajar guru di sekolah.”

            Ibunda tersenyum bangga dan haru. Si Bungsu, sekarang duduk di kelas 7, sekolah berasrama berjarak enam puluh kilometer dari rumah. Hanya satu dari empat anaknya yang bisa pulang ke rumah bulan ini. Tiga anaknya berada di luar kota, mengenyam pendidikan berbeda.

            Pada hari-hari biasanya, ia hanya tinggal berdua bersama suaminya. Maka pagi itu terasa oleh Sang Ibunda begitu sejuk dengan ucapan Si Bungsu. Hatinya dipenuhi bunga-bunga akibat disinari pujian kecil dan disirami kerinduan seorang ibu terhadap anak-anaknya.

            Pagi itu, Ibunda sedang tidak ada jadwal mengajar, maka ia duduk berhadapan dengan anak kandungnya. Setiap hari Ibunda mengajar di sekolah kejuruan, berhadapan dengan ratusan murid. Mengajar bukan hal baru baginya, tapi hari itu ada sensasi asing menyelinap dalam hatinya. Selama ini ia merasa jauh dengan anak-anaknya, baru menyadari jarang membuat momen mengajari anak kandungnya dengan perhatian penuh seperti pagi itu.

            Tiap hari ia disibukkan dengan kegiatan di sekolah, sore istirahat, malam untuk mengoreksi dan menyiapkan pelajaran esok hari. Begitu terus hingga keadaan berubah, WHO menyatakan Covid-19 sebagai pandemi, pemerintah setempat mengambil kebijakan Physical Distancing.

            Sebagai respon atas kondisi yang tidak lagi aman, pengajaran di sekolah-sekolah dialihkan dalam bentuk daring. Kesibukan berganti, perhatian tergeser. Beberapa anggota keluarga yang beruntung bisa kembali ke rumah untuk berlindung, lainnya tetap di perantauan menunggu keadaan kondusif untuk pulang.

            Bagi Sang Ibunda, keadaan ini menguntungkan karena ia bisa berkumpul lebih lama bersama keluarga, memanjakan lidah suami dan anaknya dengan masakannya setiap hari, dan lebih memperhatikan kegiatan belajar anaknya. Sementara bagi Si Bungsu, meskipun ia tidak mendapat pengajaran yang intensif dari gurunya, ia bisa lebih fokus mencerna pelajaran privat di rumah bersama Sang Ibunda. Ia juga lebih mudah menghafal tugas hafalannya sendiri, tanpa teman-teman di asrama yang terkadang mengganggu.

            Tidak bisa disamaratakan, setiap orang tentu mengalami kejadian dan perasaan berbeda. Kisah di atas hanya secuil dari impresi jutaan pekerjaan dan kegiatan belajar yang dilakukan dari rumah. Idealnya, kita harus bisa hidup berimbang dan waras di tengah peperangan sunyi ini. Mendahulukan akal sehat, mengesampingkan ego dan nafsu.

Jaga Akal Sehat

            Siaran televisi dan berita daring mempertontonkan statistik yang kian menanjak. Belum ada tanda-tanda kita akan mencapai puncak dan siap turun. Dalam kurun waktu dua bulan, telah gugur sekitar tujuh ratus saudara sebangsa dalam perang melawan Covid-19. Sementara enam ribu lainnya masih berjuang, melantunkan doa dan mengharap keajaiban.

            Tenaga medis berada di medan terdepan, berusaha mencari penangkal patogen sekaligus merawat para pasien yang terjangkit Covid-19. Sistem kesehatan kita memang seharusnya berkembang lebih cepat daripada evolusi patogen. Sistem kesehatan kita haruslah berstandar ganda, menemukan senjata untuk membasmi patogen kini sembari menyiapkan senjata baru untuk menghadapi pandemi di masa mendatang.

            Catatan sejarah dan statistik hadir sebagai bukti betapa mengerikannya penyakit-penyakit menular. Manusia seolah tak berdaya, bersembunyi dari angka-angka yang terus melonjak. Namun terpaku pada angka bukan hal yang bijak. Keadaan tak tentu ini harus disiasati dengan santai, janganlah kita tenggelam dalam statistik.

            Waktu memberi kita kesempatan untuk berolahraga, meremajakan fisik dengan gerakan-gerakan ringan di rumah. Dunia memberi kita kesempatan untuk memperbaiki kebiasaan baik yang terlewatkan. Duduklah, bacalah buku. Buya Hamka menyarankan kita memberi makan rohani dengan membaca buku yang baik.

            Pecinta buku seperti Mohammad Hatta jika berada dalam situasi harus berdiam di rumah, ia pasti akan menceburkan diri dalam lembaran-lembaran buku. Walt Disney menghidupkan imajinasi dari buku-buku yang dilihatnya lebih berharga daripada kotak berisi harta karun.

            Selama ada manusia, maka buku tidak akan punah. Mengutip Riduan Situmorang dalam tulisannya berjudul Hikayat Belajar, selama ini kita lupa bahwa belajar tidak sama dengan pembelajaran. Semenjak ada sistem bernama sekolah, praktik belajar dibuat sepenggal-sepenggal. Padalah pembelajaran bisa hadir kapanpun dan di manapun, bahkan dalam keadaan tertekan sekalipun.

            Kita hanya mempelajari apa yang tercantum di buku sekolah, di silabus perkuliahan. Bung Karno pernah mengimbau “Belajar tanpa berpikir itu tidaklah berguna, tapi berpikir tanpa belajar itu sangatlah berbahaya!”. Inilah yang harus kita

            Pandemi ini memberikan pelajaran bagi kita, jika kita mau membuka hati dan pikiran. Pembelajaran tidak selalu dalam bentuk membaca atau menghitung. Kita bisa merefleksikan keadaan dengan melatih perasaan. Membaca buku-buku sastra tentu membuka cakrawala kita.

            Selain buku, kita bisa mempelajari keterampilan atau keahlian lain. Bahasa asing menjadi hal yang penting di dunia global ini. Kemampuan bermain alat musik atau mendesain juga sebaiknya kita tekuni untuk memperkaya diri di tengah pandemi. Sehingga ketika pandemi berakhir, kita bisa come back dengan segudang pembelajaran baru.

Kemanusiaan

            Sudah lewat satu bulan sejak imbauan Rektorat dan Dekanat 16 Maret lalu untuk mengadakan kegiatan belajar mengajar secara daring. Pada awal kedatangan Covid-19 di Indonesia, pemerintah menyambut gembira dengan memberikan paket liburan ke Bali. Kementrian pun dengan menyambut dengan caranya masing, mencoba mengurangi kekhawatiran rakyat.

            Kebijakan menutup tempat pertemuan diikuti oleh lembaga pendidikan di tanah air. Menyusul tempat wisata, tempat hiburan dan tempat peribadatan. Ketakutan telah menjadi satu dengan udara, terhirup bebas tanpa bisa diantisipasi. Beberapa terkena serangan panik memberondong masker dan makanan untuk ditimbun di kediaman. Sebagian kecil tidak kebagian merasakan dimensi panik, toh masih ada tempat sampah dan tangan-tangan malaikat untuk menyambung nyawa.

            Hari-hari berlalu dengan menatap layar kaku, menyapa wajah-wajah semu, menguntai senyum hampa. Semua berjarak, demi keamanan bersama. Pertemuan dua dimensi harus dirasa cukup, zaman sedang tak mengizinkan pertemuan fisik. Bagi kalangan tertentu, interaksi sosial berlangsung dalam batasan ruang. Tapi tidak berlaku bagi kalangan kecil yang hanya hidup mengandalkan aktivitas fisik.

            Ruang-ruang industri dan perdagangan mengerut, kehilangan gairah dan pelanggan. Yang berlindung di dalam rumah, harap-harap cemas melihat statistik pasien Covid-19 berbanding terbalik dengan indeks harga saham. Kecuali ojek online, kurir antar, pengemis, pemulung, tukang koran, tukang sampah, dan tukang becak yang menguasai jalanan. Mereka tak mengerti angka-angka itu dan bukannya menentang bahaya Covid-19, mereka hanya takut menderita kelaparan terus-menerus.

            Setiap insan melakukan aktivitas sesuai peran masing-masing, berjuang dengan cara dan kemampuannya yang khas. Tidak ada Si Benar dan Si Salah di tengah peperangan melawan pandemi. Atas nama kemanusiaan, sepantasnya yang kuat membantu yang lemah, yang berkecukupan menolong yang kekurangan. Atas nama kemanusiaan, kita semua harus saling menjaga dan mendoakan.


*Tulisan ini dibuat 25/04/2020

Comments